Nararya Rahadyan B: Gadget dan Teknologi, Antara Media Konstruktif dan Destruktif Karakter Gen Z

- Kamis, 13 April 2023 | 05:35 WIB
Nararya Rahadyan B., M.Pd, akademisi, trainer, motivator (dokpri)
Nararya Rahadyan B., M.Pd, akademisi, trainer, motivator (dokpri)



RAKYAT PRIANGAN, Pendidikan- Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang melahirkan dua sisi situasi yang berpotensi baik dan juga buruk. Potensi baik bagi pengguna yang mampu beradaptasi dengan kemutakhiran, karena teknologi menjadi bagian dari kehidupan masa depan. Namun potensi buruk apabila pengguna tidak bijaksana dalam pemanfaatannya hingga mengubah perilaku menjadi kontra produktif.

Gen Z (kelahiran tahun 1995-2015) sebagai tuan rumah di era digital ini tidak terlepas dari ancaman potensi buruk akselerasi perkembangan IPTEK. Meski tidak dipungkiri, di sisi lain prinsip teknologi mampu memberikan kemudahan proses untuk sebuah hasil yang optimal. Sebagai gambaran awal, gen Z adalah generasi yang memiliki karakteristik realistis, praktis, dan konkret. Setiap pilihan yang diambil harus memiliki alasan benefit bagi mereka.

Contohnya saat gen Z memilih transportasi online untuk menuju suatu tempat. Semua harus sesuai dengan harapannya, mulai dari kemudahan transaksi, kepastian harga, estimasi waktu, bahkan hingga spesifikasi kendaraan atau driver-nya. Seluruh ekspektasi gen Z saat ini hampir dikatakan mampu dipenuhi oleh teknologi, gaddget, internet, dan berbagai kemutakhiran lainnya.

Baca Juga: Membaca Kisah Sejarah Nabi Muhammad SAW, Serial Sirah Nabawiyah Bag 21: DUKA CITA MELANDA SANG NABI

Begitupula dengan proses komunikasi yang tidak terlepas dari teknologi hingga hampir berperan sebagai media primer bagi gen Z. Jika anda adalah orang tua atau guru dari generasi sebelum gen Z, pernahkah anda merasa bahwa atensi gen Z terhadap perangkat digital lebih menarik perhatian mereka ketimbang sosok anda sendiri?

Hal tersebut sejalan dengan sebuah riset yang mengatakan bahwa gen Z lebih familiar berinteraksi dengan atau melalui robot daripada bersama orang yang lebih tua (secara usia) dari mereka. Dampaknya gen Z menjadi minim interaksi langsung atau tatap muka dengan sesama manusia, bahkan cenderung mengikis norma kesantunan dalam berkomunikasi serta nilai-nilai budaya lainnya.

Riset selanjutnya mengatakan bahwa salah satu penyebab speech delay (lambat berbicara) pada anak usia dini adalah karena perilaku adiktif anak terhadap gadget. Anak tidak ter-stimulasi untuk berkomunikasi secara verbal karena setiap kebutuhan rasa ingin tahu serta pola komunikasi mereka sudah terjawab dan terpuaskan oleh berbagai fitur yang ada pada gadget. Akibatnya kosakata yang dimiliki anak adalah kosakata tayangan gadget dan bukan kosakata verbal orang tua.

Baca Juga: Bolehkah Itikaf Hanya Satu Malam Saja? Begini Penjelasan Beberapa Mazhab!

Tidak sedikit pula ditemukan kasus kekerasan, pelecehan, serta berbagai bentuk penyimpangan lainnya yang bersumber dari ditayangkan media dalam gadget. Tontonan serta permainan dalam gadget yang awalnya berfungsi sebagai hiburan, bergeser menjadi role model yang menginspirasi penyimaknya.

Sifat adiktif Gadget serta berbagai perangkat digital lainnya diawali dari frekuensi dan intensitas penggunaannya tidak terkendali. Interaksi sosial, rutinitas belajar dan kerja, aktivitas peribadatan, serta berbagai situasi sehari-hari lainnya cenderung terdistraksi oleh keinginan untuk selalu menyimak gadget setiap waktu. Bahkan ketergantungan pada gadget akan menimbulkan rasa cemas jika pengguna tidak mampu mengaksesnya atau yang dikenal dengan istilah nomophobia.

Lantas apakah orang tua atau pendidik harus menjauhkan anak dari gadget atau berbagai teknologi digital lainnya? Faktanya paparan teknologi pada gen Z adalah situasi yang tidak bisa dibendung, karena gen Z adalah ‘pribumi’ di era teknologi. Yang dapat dilakukan adalah pengendalian terhadap penggunaan gadget dan berbagai produk teknologi itu sendiri, baik di lingkungan formal (sekolah), non formal (pergaulan), maupun informal (keluarga).

Baca Juga: Serial Sirah Nabawiyah bag. 20 yang berjudul PIAGAM PEMBOIKOTAN BUAH PUTUS ASA PEMUKA QURAISY

Kunci dari persoalan di atas terletak pada pendampingan dan kebijaksanaan penggunaan teknologi dalam setiap aktivitas. Tidak hanya berlaku pada anak, orang tua maupun pendidik bahkan lembaga pendidikan juga perlu memiliki sikap positif dalam hidup berdampingan dengan teknologi.

Agar kehadiran teknologi tidak melahirkan efek destruktif pada anak, maka seluruh pihak perlu berkolaborasi membentuk sistem dan budaya yang bijaksana dalam menggunakan gadget. Sekali lagi, sinergi ini menjadi tanggung jawab seluruh pihak dan bukan hanya ditujukan pada anak.

Sampai kapan lembaga pendidikan bersikap ‘phobia’ dengan melarang siswanya membawa gadget? Faktanya referensi digital saat ini jauh lebih berlimpah ketimbang referensi cetak. Namun mampukah lembaga membentuk infrastruktur sistem yang memperbolehkan siswa membawa gadget?. Tentu dengan akases yang hanya dibatasi untuk kebutuhan proses belajar dan mengajar.

Baca Juga: Liburan Lebaran 2023 di Smart Hill Camp, Subang: Nikmati Pemandangan Alam Indah di Jembatan Diatas Kebun!

Mampukah setiap ekosistem menciptakan budaya interaksi yang hangat saat melakukan percakapan tatap muka, tanpa terganggu kehadiran gadget di tengah diskusi mereka? Sehingga budaya kesantunan komunikasi verbal tetap terpelihara dengan baik.

Akankah orang tua di rumah menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya untuk disiplin menegakkan manajemen penggunaan gadget? Kualitas interaksi orang tua dan anak maupun antar anggota keluarga lainnya seyogyanya menjadi prioritas utama dibandingkan dengan ego keinginan mengakses gadget masing-masing.

Kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak lantas membentuk karakter ‘terlalu menyederhanakan proses’. Gen Z berpotensi tumbuh sebagai generasi yang berorientasi pada hasil instant dan tidak menghargai proses. Kembali lagi pada karakter gen Z yang praktis, mereka cenderung abai jika dirasa berproses adalah siklus yang tidak langsung dirasakan kebermanfaatannya.

Baca Juga: Ingin Mendapatkan Malam Lailatul Qadar? Beginilah Tanda-tandanya!

Maka apabila gadget dan teknologi memang telah melebur di setiap lini kehidupan era ini, kita kembalikan status gadget dan teknologi sebagai sistem pendukung semata dan bukan sebuah kebutuhan primer. Gadget dan teknologi harus hadir sebagai penyempurna proses yang mengkosntruksi karakter, dan tidak mengesampingkan nilai-nilai etis manusia sebagai makhluk sosial.***

Editor: Syarif Hidayat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X